Wednesday, 08 Sep 2010
You are here: Home Riwayat Hidup Bp. Soenarto Mertowardojo, Paranpara Pangestu
Riwayat Hidup Bp. Soenarto PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 10 March 2010 17:35

RIWAYAT HIDUP BAPAK R. SOENARTO MERTOWARDOJO
( Paranpara Pangestu )



R. Soenarto adalah salah satu umat yang terpilih yang menjadi warana turunnya Sabda Ilahi dengan perantaraan Utusan-Nya yang Abadi, yakni Suksma Sejati.  Sabda Ilahi yang diterima beliau bukanlah sesuatu yang serta merta turun begitu saja, melainkan diperoleh setelah R. Soenarto berupaya keras melalui masa pencarian panjang disertai berbagai pengalaman spiritual yang diawali sejak beliau berusia 7 tahun.
R. Soenarto Mertowardojo, yang di kalangan warga Pangestu lebih dikenal dengan Pakde Narto, lahir pada tanggal 21 April 1899 di desa Simo, Kabupaten Boyolali, Surakarta sebagai putra keenam dari delapan bersaudara dari keluarga Bapak R. Soemowardojo. Hidup pada masa itu, di jaman pendudukan Belanda, dengan delapan putra merupakan cobaan yang berat bagi keluarga Bapak R. Soemowardojo yang sehari-hari bekerja sebagai mantri penjual.
Walaupun dihimpit oleh keadaan yang serba kekurangan dan tidak menguntungkan, beliau berkeinginan kuat untuk dapat menyekolahkan  anak-anaknya. Oleh karena itu, Bapak R. Soemowardojo berniat untuk menitipkan R. Soenarto kepada keluarga atau kerabat, bahkan pada orang lain yang tidak ada hubungan kekeluargaan, dengan harapan, orang yang dititipi dapat membantu Pakde mendapatkan pendidikan formal yang lebih baik.
Itu pulalah yang menjadi titik awal dari masa pencarian yang panjang. Masa ngenger kepada orang lain dengan berpindah-pindah yang dialami Pakde Narto selama 15 tahun merupakan ajang tempaan watak narima, berkorban perasaan dan sabar yang harus dijalani Pakde dalam usia yang masih sangat muda. Menghadapi keadaan itu, beliau tidak pernah mengeluh kepada ayah-bunda atau kepada orang lain. Pakde juga menunjukkan sikap jiwa yang teguh berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Waktu terus berjalan dan akhirnya masa ngenger pun berlalu. Namun, pengalaman ngenger yang berat inilah yang menjadi tonggak penting dalam hidup Pakde Narto. Ketika beliau beranjak dewasa, keinginan untuk terus mencari dan memahami keesaan Tuhan berikut semesta alam seisinya makin mengental. Melalui perenungan yang dalam, muncul pertanyaan-pertanyaan besar, seperti di mana Tuhan bertakhta, bagaimana manusia dapat bertemu dengan Tuhannya, apa sebenarnya yang dimaksud dengan surga dan neraka dan jika ada, di mana letaknya, mendorong Pakde untuk belajar kepada beberapa guru. Akan tetapi jawaban yang diperoleh beliau tidak ada yang memuaskan bahkan mengecewakan. Beliau kemudian berjanji dalam hati untuk tidak berguru lagi dan akan memohon langsung kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pakde menyadari bahwa laku yang benar hanyalah memohon sih pepadang Allah yang senyatanya Mahamurah, Mahaasih, Mahaadil. Beliau yakin akan diberi pepadang asal memohon dengan sungguh-sungguh. Pada suatu hari, tepatnya hari Ahad Pon, 14 Februari 1932, kira-kira pukul setengah enam sore, ketika beliau sedang duduk-duduk seorang diri di serambi Pondok Widuran, Sala, pertanyaan-pertanyaan yang selalu menjadi pemikiran beliau, timbul kembali. Pakde kemudian berniat memohon kepada Tuhan agar diberi sih pepadang-Nya. Setelah memohon dengan khusyuk lalu dilanjutkan dengan sdolat daim, dengan tidak terduga-duga, Pakde menerima Sabda Ilahi dalam hati sanubari yan suci seakan-akan menjawab pertanyaan beliau, sebagai berikut “

“Ketahuilah, yang dinamakan Ilmu Sejati ialah petunjuk yang nyata, yaitu petunjuk yang menunjukkan jalan benar, jalan yang sampai pada asal mula hidup”.

Ketika Bapak Soenarto menerima Sabda tersebut, beliau merasa bagaikan disiram air dingin dan badan terasa gumriming merinding lalu disusul oleh perasaan takut. Dengan termangu-mangu Bapak Soenarto bertanya dalam hati “Siapakah gerangan yang bersabda itu tadi?”. Kemudian terdengar Sabda berikutnya yang merupakan jawaban atas pertanyaan Pakde Narto sebagai berikut :

“Aku Suksma Sejati, yang menghidupi alam semesta, bertakhta di semua sifat hidup”.

“Aku Utusan Tuhan yang abadi, yang menjadi Pemimpin, Penuntun, Gurumu yang sejati ialah Guru Dunia. Aku datang untuk melimpahkan Sih Anugerah Tuhan kepadamu berupa Pepadang dan Tuntunan. Terimalah dengan menengadah ke atas, menengadah yang berarti tunduk, sujud di hadapan-Ku.

Ketahuilah siswa-Ku, bahwa semua sifat hidup itu berasal dari Suksma Kawekas, Tuhan semesta alam, letak sesembahan yang sejati ialah Sumber Hidup, yang akan kembali kepada-Nya. Sejatinya hidup itu Satu, yang abadi keadaannya dan meliputi semua alam seisinya.”

Demikian sabda demi sabda diterima berturut-turut dalam beberapa bulan dan semua Sabda ini dicatat oleh dua orang priagung yang membantu Pakde Narto saat itu, yaitu Bp. R. Tumenggung Hardjoprakoso dan Bp. R. Trihardono Soemodihardjo.  Himpunan Sabda Ilahi inilah yang kemudian menjadi Pustaka Suci Sasangka Jati.
Turunnya ajaran Sang Guru Sejati merupakan fenomena wahyu melalui perantara R. Soenarto yang tidak dapat dijangkau oleh daya angen-angen atau pikiran manusia.



Kita tidak dapat hanya menggunakan alam pikiran untuk menerima ajaran Sang Guru Sejati, yang lebih diperlukan adalah hati nurani dan kesadaran yang paling dalam. Ajaran ini dipastikan dapat membantu umat manusia untuk dapat lebih menghayati dan menjalankan ajaran agamanya dengan lebih baik.
Dengan dasar tujuan itulah atas prakarsa Pakde Narto organisasi Pangestu didirikan pada tanggal 20 Mei 1949. Organisasi Pangestu terbentuk ketika kota Sala diduduki tentara Belanda pada clash kedua. Pada masa itu kota Sala diliputi keadaan yang mencekam karena tentara Belanda melarang segala bentuk kegiatan yang dilakukan secara berkelompok atau berkumpul lebih dari lima orang. Pada suatu hari, tepatnya hari Jumat Pon, 20 Mei 1949, pukul 16.30 Pakde Narto kedatangan tujuh orang siswa yang datang secara diam-diam. Para siswa tersebut adalah : Bapak Soeratman, Bapak Goenawan, Bapak Prawirosoeparto, Bapak Soeharto, Bapak Soedjono, Bapak Ngalimin dan Bapak Soetardi. Sore itu Pakde Narto mengajak para siswa tersebut untuk manembah bersama memohon agar perjuangan bangsa Indonesia lekas selesai dan berada di pihak yang jaya. Sang Guru Sejati bersabda dengan perantaraan lisan Pakde Narto, yang salah satu intinya adalah perintah Sang Guru Sejati kepada siswa-Nya untuk menyebarluaskan pepadang-Nya atau ajaran-Nya kepada seluruh umat. Setelah menerima sabda dari Sang Guru Sejati, para siswa mengadakan perundingan dan menghasilkan terbentuknya pengurus Pangestu yang pertama. Susunan tersebut adalah sebagai berikut : Ketua adalah Bapak Goenawan, Penulis adalah Bapak Soetardi, Bendahara dipercayakan kepada Bapak Soeratman sedangkan pembantu-pembantu adalah Bapak Soedjono, Bapak Soeharto, Bapak Ngalimin dan Bapak Prawirosoeparto. Pakde Narto sendiri bertindak sebagai Paranpara sesuai dengan Sabda Sang Guru Sejati. Inilah susunan pengurus sementara yang pertama sebagai tanda berdirinya organisasi yang semata-mata berorientasi pada kejiwaan dan dikenal sebagai Paguyuban Ngesti Tunggal. Pakde Narto wafat pada tanggal 16 Agustus 1965 dan dimakamkan di Bonoloyo, Sala.







Comments (0)
Only registered users can write comments!

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."