Laporan Pandangan Mata Sekitar Erupsi Merapi di Srumbung

23 Februari 2011

 

Hari itu Jumat, 29 Oktober 2010, telepon di rumah berdering. Ternyata telepon dari Jakarta, Ketua Pengurus Pusat Pangestu, Bapak Budi Darmadi (Pak Didiek).
Beliau memberitahu bahwa ada anggota Pangestu yang terkena dampak erupsi Merapi dan mengungsi.
Beliau minta tolong agar Korda Pangestu Jawa Tengah I membantu mencarikan informasi mengenai hal itu, dan para warga tersebut segera diberi pertolongan dengan dicarikan wisma untuk mereka mengungsi dan diberi pertolongan semua fasilitas yang mereka butuhkan selama meng-ungsi. Beliau akan membantu sepenuhnya. Saya merasa bangga, terharu dan terkesan akan cepat tanggapnya beliau terhadap warga-nya yang terkena musibah. Oleh karena beliau melihat dari tayangan televisi, keadaan para pengungsi yang berhimpit-himpitan dalam keadaan susah kurang papan, pangan, dan lain sebagainya.

Saya segera menghubungi Ketua Cabang Pangestu Jogja yang baru, masih muda, energik dan entengan, Mas Jarot. Ternyata ketika saya menghubunginya, Mas Jarot sedang mengumpulkan budi darma untuk para korban Merapi. Sepengetahuan saya di wilayah Jogjakarta tidak ada anggota Pangestu yang mengungsi. Oleh karena erupsi Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010 tidak sampai daerah Ngaglik yang berjarak 20 kilometer dari puncak Merapi, di mana beberapa anggota Pangestu bermukim. Berdasarkan informasi dari Bapak Ketua Pusat, kami pun dari Jogja mengadakan peninjauan lapangan. Ternyata yang terkena adalah daerah Srumbung, Muntilan – Magelang yang termasuk dalam cabang binaan Korda Jawa Tengah VIII. Di sana telah didirikan posko yang dibantu Korda Jawa Tengah VIII dan stafnya. Posko berada di rumah seorang warga Pangestu, Bapak Sobiman. Beliau sudah sepuh, seorang anggota Veteran, akan tetapi walau sudah sepuh dan penglihatannya sudah terbatas, semangat, anthusiasnya besar, dan bicara jelas dan terlihat gagah.

Pada tanggal 30 Oktober 2010, Pak Didiek beserta Ibu Aty berkenan meninjau posko warga Pangestu di Srumbung. Diantar kendaraan dari Universitas Setiabudi, Solo, beliau berdua langsung ke Srumbung.
Bersamaan dengan itu bantuan untuk para korban bencana dari warga Pangestu di Jakarta yang dibawa oleh kendaraan YAW Pusat telah tiba di posko Srumbung. Kehadiran Bapak Ketua Pusat dan Ibu Aty disambut para warga dengan rasa bahagia bercampur haru. Suasana keakraban (supeket) sangat terasa, dengan penuh kasih Bapak Ketua Pusat berkomunukasi dengan para warga di Srumbung. Setelah itu kami semua yang hadir di sana makan bersama di rumah Bapak Sobiman. Walaupun makan seadanya tampak beliau berdua menikmati semua makanan yang dihidangkan: nasi dengan sambal goreng krecek, telur, gudangan, dan krupuk ditambah buah salak segar dipetik dari kebun seorang warga. Setelah makan usai, Pak Didiek bersama kami dari Korda Jawa Tengah I dan staf, Korda Jawa Tengah VIII dan staf meng-unjungi rumah seorang warga yang berada di 9 Km dari puncak Merapi, sedangkan rumah Bapak Sobiman terletak di 12 Km dari puncak Merapi. Berarti kami harus mendaki lagi melewati jalan sempit di hutan gelap dengan dipandu oleh Ketua Cabang Pangestu Muntilan, Bapak Wiyono dan Bapak Mulya-di. Kehadiran Pak Didiek dan Ibu Aty disambut dengan penuh haru, pelukan kasih sayang Pak Didiek pada warga tersebut membuat saya yang menyaksikan peristiwa itu, turut meneteskan air mata.

Saat itu banyak lagi rekan-rekan relawan Pangestu dari wilayah Korda Jateng VIII, Jateng I yang menolong saudara-saudara sepenyiswaan, mereka membantu bergotong royong, dan berbagi suka-duka. Mereka sigap menjemput satu persatu dengan motor mereka apabila tanda bahaya berbunyi menandakan gunung Merapi akan meletus lagi dan warga di Srumbung harus segera mengungsi. Disamping itu, Ibu Sarwedi, Korda Jawa Tengah VIII bersama stafnya siap mendampingi para warga di Muntilan memberikan motivasi dengan ajaran Sang Guru Sejati, mereka melakukan sarasehan, manembah bersama dan pangesti mohon keselamatan. Sungguh budi darma yang penuh kasih, dan tanpa pamrih telah dilaksanakan oleh mereka sebagai siswa Sang Guru Sejati.

Tanggal 4 November 2010 kondisi gunung Merapi semakin mengkhawatirkan, para penduduk Srumbung turun untuk mengungsi, begitu juga dengan warga Panges-tu yang berada di sana, dengan dibantu mobil yang dipinjamkan dari Solo mereka mengungsi ke Sayegan. Warga Pangestu Srumbung menempati 3 rumah. Satu rumah warga Pangestu, Bapak Mugiono, sedangkan yang dua adalah rumah kosong yang boleh ditempati karena pemilik rumah masih tinggal di Jakarta.
Pada hari Jumat, tanggal 5 November 2010 terjadi erupsi yang lebih besar, lahar panas, abu vulkanik mengakibatkan desa yang terletak di 9 Km dan 12 Km tidak lagi terlihat indah, semua tertutup debu 5 – 7 cm. Seluruh tumbuh-tumbuhan yang berada di sana seakan tertunduk sujud pada kekuatan alam atas kehendak Suksma Kawekas. Pohon salak milik warga rebah mencium tanah, padahal sudah hampir panen. Begitulah nasib manusia apabila Tuhan menghendaki semua dapat berubah dalam sekejap.

Di pengungsian Sayegan, mereka juga melaksanakan sarasehan/olahrasa bersama pemuda-pemuda dari Jogja dengan dipimpin Ketua Cabang Pangestu, Bapak Jarot Pracaya Adi.

Tanggal 20 November 2011, Bapak Ketua Pengurus Pusat Pangestu, Bapak Budi Darmadi dan Ibu Aty bersama putri-putrinya berkenan meninjau para pengungsi di Sayegan dan memberikan budidarma kepada para warga yang mengungsi di sana, tidak hanya kepada warga Pangestu tetapi juga pengungsi lain yang berada di sekitar pengungsian itu. Bersamaan dengan itu beliau juga menyalurkan budi darma yang terkumpul dari Universitas Setiabudi, Solo, berupa sembako dan lain-lain. Ada hal yang mengharukan yang patut kita contoh dari Pak Didiek, yaitu kasih sayang beliau kepada siapa saja tanpa membedakan, yaitu ketika mobil iring-iringan kami menuju Sayegan meliwati pinggir selokan Mataram yang sempit. Saat itu ada seorang nenek mengendarai sepeda dengan membawa rapak (daun kering yang panjang). Ia harus turun dari sepedanya karena harus menepi ketika mobil lewat, melihat keadaan nenek tersebut Pak Didiek turun dari mobil untuk menolongnya.

Sedangkan saya berada dalam mobil yang paling depan di iring-iring itu, hanya dapat melihat kejadian tersebut dari kaca spion. Saya tersentuh kembali, memang demikian seharusnya seorang yang telah menyiswa kepada Sang Guru Sejati dengan benar, memiliki perasaan yang halus dan berwatak utama.

Sesampai di tempat pengungsian setelah bersilahturahmi dengan para pengungsi, Pak Didiek bersama Ibu Aty dan putri-putrinya makan bersama dengan seluruh warga, sekali lagi dalam kondisi seadanya ditemani lauk: gudeg, sambal goreng, telur, tempe, tahu, sayur sup, dan krupuk. Tampak beliau berkenan, karena sampai tambah. Setelah itu beliau dan rombongan
berkenan kembali meninjau desa Srumbung yang tertutup pasir vulkanik. Apabila kunjungan pertama masih banyak pohon-pohon hijau, kini daun-daun pohon kelapa telah terkulai kering, pohon salak sujud di tanah, kali Putih yang melewati Srumbung bertambah luas dan mengikis tanah sekitar. Seperti pada kunjungan pertama, Pak Didiek menyempatkan diri ke dusun Ngepos, Srumbung di sana berdiri menara pengawas dan seismograf untuk mengawasi kegiatan gunung Merapi. Dari menara tersebut Pak Didiek dan Ibu Aty ingin melihat puncak gunung Merapi, tetapi saat itu cuaca mendung sehingga tidak dapat melihatnya. Pada kunjungan kedua, pemandangan jauh berbeda, menara tersebut sudah tutup dan ditinggal pengawasnya, teras kantor seismograf ambrol dan tidak ada satu pun pegawai di sana. Kemudian Pak Didiek bersikeras untuk melihat jembatan kali Putih yang keadaannya juga mengkhawatirkan, meskipun hujan beliau rela berlari ke sana. Hari pun menjelang senja, Pak Didiek dan rombongan segera melanjutkan perjalanan ke Semarang, untuk kembali ke Jakarta.

Begitulah selayang pandang loporan pandangan mata yang saya saksikan dan saya merasakan betul apa arti Pangestu adalah satu. Saling asih, asah, dan asuh sesama warga Pangestu karena bakti kepada Sang Guru Sejati dan cinta kepada Pangestu. Perlu pula saya sampaikan bahwa warga Pangestu Srumbung benar-benar merasa dilindungi Sang Guru Sejati. Kini mereka telah meninggalkan pengungsian dan menata kembali kehidupan
mereka yang sederhana dengan berbekal budi darma dari Yayasan Andana Warih.

Terima kasih Sang Guru Sejati dan terima kasih kepada semua warga Pangestu yang telah berbudi darma untuk saudara-saudara kita di Srumbung. Semoga Sang Guru Sejati selalu memberikan tuntunan, pepadang dan kekuatan bagi jiwa kita semua agar dapat menjalankan kewajiban lahir batin dengan sebaik-baiknya.

Satuhu.

Add comment


Security code
Refresh